News

WHO : Dunia Harus Siap Hadapi Pandemi Virus Corona

February 25, 2020

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) menyatakan  dunia harus berbuat lebih banyak guna mempersiapkan kemungkinan pandemi virus corona.

Dalam pernyataan resminya pada Senin (24/02/2020), WHO mengatakan masih terlalu dini untuk menyebut wabah virus corona sebagai pandemi, tetapi meminta negara-negara di dunia harus berada dalam fase kesiapsiagaan.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengungkapkan ada banyak spekulasi tentang apakah peningkatan kasus ini berarti bahwa epidemi virus corona sekarang telah menjadi pandemi dan pihanya memahami mengapa orang mengajukan pertanyaan itu.

“Keputusan kami tentang apakah akan menggunakan kata “pandemi” untuk menggambarkan suatu epidemi didasarkan pada penilaian berkelanjutan dari penyebaran geografis virus. Selain itu, tingkat keparahan penyakit yang ditimbulkannya dan dampaknya pada seluruh masyarakat,” ujar Tedros dalam pernyataan resminya seperti dikutip dari laman www.who.int.

WHO telah menyatakan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional – tingkat alarm tertinggi – ketika ada kurang dari 100 kasus di luar China, dan 8 kasus penularan dari manusia ke manusia.

Untuk saat ini, jelas Tedros, pihaknya tidak menyaksikan penyebaran global dari virus ini, dan WHO tidak menyaksikan penyakit parah atau kematian dalam skala besar.

“Apakah virus ini memiliki potensi pandemi? Tentu saja. Apakah kita sudah sampai? Dari penilaian kami, belum,” jelasnya.

Bagaimana WHO menggambarkan situasi saat ini? Tedros mengungkapkan apa yang dilihat adalah epidemi di berbagai belahan dunia, yang memengaruhi negara-negara dengan cara yang berbeda dan memerlukan respons khusus.

Dia menegaskan peningkatan mendadak dalam kasus-kasus baru tentu sangat memprihatinkan dan mengaku telah berbicara secara konsisten tentang perlunya fakta, bukan ketakutan.

“Ini bukan waktunya untuk fokus pada kata apa yang kita gunakan. Ini adalah waktu bagi semua negara, komunitas, keluarga dan individu untuk fokus pada persiapan. Kita harus fokus, sambil melakukan segala yang kami bisa untuk mempersiapkan pandemi potensial,” papar Tedros.

Tedros menjelaskan puncak penyebaran virus di China terjadi antara 23 Januari hingga 2 Februari lalu, dan jumlah kasus baru di sana telah menurun. China telah melaporkan total 77.362 kasus COVID-19 kepada WHO, termasuk 2.618 kematian.

Dalam 24 jam terakhir, China telah melaporkan 416 kasus baru yang dikonfirmasi, dan 150 kematian.

“Tim WHO-China telah melakukan perjalanan ke beberapa provinsi, termasuk Wuhan. Tim telah membuat berbagai temuan tentang penularan virus, tingkat keparahan penyakit dan dampak dari tindakan yang diambil.”

Mereka, lanjut Tedros, menemukan bahwa tidak ada perubahan signifikan dalam DNA virus dan menemukan tingkat kematian adalah antara 2% dan 4% di Wuhan, dan 0,7% di luar Wuhan.

Tim tersebut menemukan bahwa untuk orang dengan penyakit ringan, waktu pemulihan sekitar dua minggu, sementara orang dengan penyakit parah atau kritis pulih dalam tiga hingga enam minggu.

“Virus ini dapat diatasi. Ini adalah ancaman bersama. Kita hanya bisa menghadapinya bersama, dan kita hanya bisa mengatasinya bersama. Ketika kita bertindak bersama – negara, organisasi kesehatan regional dan global, media, sektor swasta, dan orang-orang di mana saja – kekuatan kolektif kita sangat kuat,” tukas Tedros.

Di luar China, wabah virus corona menyebar di 28 negara dengan jumlah kasus 2.074 kasus dan 23 kematian. Peningkatan mendadak kasus-kasus di Italia, Republik Islam Iran dan Republik Korea sangat memprihatinkan.