News

Teknologi Digital Bisa Mendorong Pembangunan Industri Pertanian 4.0 Visioner & Terintegratif

December 13, 2018

Bogor — Ketua Umum Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (PISPI) Sunarso mengusung sembilan konsep pembangunan pertanian visioner dan integratif di era industri pertanian 4.0 dan mengimbau kalangan milenial para sarjana pertanian dapat mengambil peluang tersebut di era makin berkembangnya teknologi digital.

Kesembilan konsep pembangunan pertanian visioner dan terintegratif  yaitu kejelasan tata ruang nasional melalui pembaruan agraria, infrastruktur, pola pengusaha pertanian, kelembagaan pertanian, riset dan teknologi tepat guna. Lalu, supply chain management, aspek keuangan, monitoring neraca produksi dan stok nasional serta industri berbasis pertanian. Hal tersebut dijelaskan oleh Sunarso yang juga Direktur Utama PT Pegadaian (Persero) dalam kuliah umum Goes To Campus dan HUT PISPI ke 8 di Institut Pertanian Bogor (IPB), Kamis (13/12), Bogor. 

“Di era pesatnya perkembangan teknologi digital dan industri pertanian 4.0, para sarjana pertanian khususnya lulusan IPB harus siap untuk menjadi wirausaha pertanian digital atau tanipreneur. Tidak lagi berpikir menjadi karyawan, karena peluang untuk mengembangkan tanipreneur yang berbasis pada teknologi semakin terbuka, ditengah makin berkurangnya lahan pertanian,” jelas Sunarso.

Saat ini banyak lahan pertanian yang berubah fungsi menjadi lahan properti dan kawasan industri, tambah Sunarso, sehingga diperlukan pola pikir kreatif dan inovatif untuk mengembangkan pertanian yang visioner dan terintegratif. “Selain itu juga makin berkurangnya minat generasi muda menjadi petani. Oleh sebab itu menjadi petani modern atau petani digital menjadi jawaban untuk meningkatkan produktivitas sektor pertanian.

“Sayangnya generasi milenial saat ini masih malu untuk berprofesi sebagau petani. Padahal petani berperan penting dalam perkembangan ekonomi di Indonesia. Oleh sebab itu perguruan tinggi seperti IPB memiliki peran untuk bersama-sama mengembangkan sembilan konsep yang diusung oleh PISPI, sekaligus mengoptimalkan kebijakan dan fasilitas yang disiapkan pemerintah.

Menurut Sunarso, sektor pertanian merupakan salah satu penyumbang pada pendapatan pendapatan domestik bruto (PDB) negara dan penyedia lapangan pekerjaan bagi untuk masyarakat Indonesia. Sehingga PISPI dan IPB dapat bersama-sama fokus menggarap dan menunjang sektor pertanian agar lebih maju di era digital dan industri 4.0 ini untuk kesejahteraan petani dan rakyat Indonesia.

Sementara itu, pemerintah belum lama ini meluncurkan program kartu tani. Program tersebut memberikan  peluang besar bagi perkembangan usaha pertanian di Indonesia. Kartu tani merupakan sebuah sarana untuk mengakses layanan perbankan terintegrasi yang berguna sebagai simpanan, transaksi, penyaluran pinjaman hingga kartu subsidi (e-wallet). Keunggulannya adalah single entry data, proses validasi berjenjang secara online, transparan, dan multifungsi. Sedangkan Kementerian Pertanian mendukung revolusi industri 4.0 ini dengan mengembangkan sebuah inovasi bisnis yaitu pertanian presisi, pertanian vertikal, dan pertanian pintar. Data besar, sensor dan drone, alat analisis, ‘internet pertanian’ serta otomatisasi alsintan adalah beberapa teknologi yang mendukung industri 4.0.

Sunarso mengimbau agar para mahasiswa dan sarjana pertanian memanfaatkan semua inovasi kebijakan dan fasilitas yang ada untuk menjadi petani modern, wirausaha pertanian yang memadukan informasi dan teknologi digital dalam implementasi di lapangan. “Petani Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan sektor hulu saja seperti budidaya atau produksi pertanian, tapi juga harus bisa mengoptimalkan sektor hilir seperti bisnis pengolahan sehingga ada nilai tambah pada petani. 

Sunarso sebagai orang nomor 1 di Pegadaian dan juga Ketua Umum PISPI cukup concern terhadp pengembangan SDM dan pertanian. Contohnya, Program Pegadaian Sahabat Desa tujuannya untuk mempermudah masyarakat desa dan daerah pinggiran dalam mengakses produk-produk dan layanan Pegadaian. Selain itu Pegadaian juga menggandeng Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), Pegadaian membuka layanan keliling yang berpindah dari desa satu ke desa lainnya. Dengan demikian masyarakat desa yang tinggal jauh dari outlet Pegadaian pun dapat dilayani, dari mulai menyediakan akses permodalan dan petani juga bisa menggadaikan alat pertaniannya seperti traktor tangan, pompa air dan lainnya. “Petani sekarang cukup ke Pegadaian, maka dengan mudah dapat mencari tambahan modal untuk mengembangkan produktivitas pertaniannya.” 

Jumlah outlet Pegadaian hingga saat ini tercatat lebih dari 4.300 outlets di seluruh Indonesia. Dengan jumlah nasabah yang telah mencapai 9 juta orang dan lebih dari 13.000 karyawan yang bekerja di Pegadaian.

***