News

CORE: Pemerintah Perlu Dorong Produksi dan Produktivitas

November 26, 2018

Jakarta – Untuk mengembangkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan dalam jangka menengah, Founder & Ekonom Senior CORE Indonesia, Hendri Saparini mengatakan pemerintah perlu mendorong peningkatan produksi dan produktivitas nasional. Salah satunya dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki dalam negeri.

“Kalau ini bukan hanya sumber daya alam, tapi juga sumber daya manusia,” kata Hendri Saparini, di Jakarta, 21 November 2018.

Ia menjelaskan diantaranya dengan melakukan revitalisasi industri dengan memperkuat keterkaitan industri ke depan dan ke belakang. Kemudian mendorong sektor-sektor yang memiliki keunggulan komparatif dari isi ketersediaan bahan baku dalam negeri. Strategi tersebut menurutnya perlu dijalankan dengan mengantisipasi dinamika perubahan lingkungan eksternal, termasuk perkembangan teknologi yang cepat.

Sementara beberapa kebijakan strategi yang harus diperkuat pemerintah, yaitu pemenuhan kebutuhan dasar dan perlibatan masyarakat (bawah) pada kegiatan ekonomi, sinergi tiga pilar kebijakan (fiskal, moneter, dan sektor rill), peningkatan kapasitas dan kualitas SDM, mewujudkan kedaulatan pangan dan energi, pengembangan SDA, pengembangan sektor strategi dan ekonomi berbasis teknologi informasi.

Pada kesempatan yang sama Direktur CORE Indonesia, Mohammad Faisal menjelaskan tentang ekonomi global. Ia memprediksi bahwa di tahun 2019 ekonomi global mengalami perlambatan.

Terlihat dari data yang dimilikinya bahwa Negara Amerika Serikat (AS) pertumbuhan ekonomi nya di tahun 2018 mencapai 2,9 % tapi di 2019 diprediksi menurun menjadi 2,5%, hal ini disebabkan karna faktor perang dagang, normalisasi kebijakan the feed, dan penguatan dolar AS. Lalu Faisal juga memprediksi Negara Cina juga mengalami perlambatan dalam ekonominya, yang tadinya di tahun 2018 6,5 % di tahun 2019 menjadi 6,2%, hal ini terjadi karena faktor pelemahan investasi, perang dagang, pelemahan ekspor, dan penurunan impor.

Kemudian Uni Eropa pun juga mengalami hal tersebut, yang 2018 mencapai 2,2% di tahun 2019 diprediksi mencapai 2,0%. Hal ini dikarenakan faktor penurunan dosis pelonggaran kebijakan moneter ECB, stagnasi konsumsi akibat pengangguran, dan penurunan ekspor. Sedangkan untuk ASEAN diprediksi akan mengalami hal yang sama, di tahun 2018 sebesar 5,3 % dan di tahun 2019 di prediksi hanya melemah mencapai 5,2 % saja. Hal tersebut terjadi karena faktor pelemahan pertumbuhan ekonomi negara tujuan ekspor utama, penurunan harga komoditas, dan gejolak sektor keuangan.

“Tapi kami tetap memprediksi bahwa proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,1%-5,2%,” ujarnya.