Economy

IMF 2018 dapat Meningkatkan Perekonomian Indonesia

September 21, 2018

Jakarta, 17 September 2018 – Pertemuan IMF World Bank Annual Meeting yang akan di selenggarakan pada tanggal 12 – 14 Oktober 2018, di Nusa Dua, Bali. Pertemuan tersebut dinilai akan banyak mempengaruhi sektor ekonomi di Indonesia, karena saat ini Indonesia masi menduduki negara berkembang dengan pendapatan menengah.

“Data yang kami ambil menunjukkan paling lambat tahun 2020 Indonesia naik kelas menjadi negara berpendapatan menengah ke atas. Upaya yang dilalukan pemerintah dalam 5 tahun mengangkat Indonesia jadi negara berpendapatan menengah ke atas,” kata Menteri PPN / Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro di Gedung Djuanda l, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Senin 17 September 2018.

Sehingga, pertemuan tahunan tersebut dapat dijadikan sebuah misi penting untuk pemerintah, untuk membuat Indonesia dicap sebagai negara dengan pendapatan tinggi. Apalagi dalam pertemuan tersebut dirinya menilia pertumbuhan ekonomi, khususnya di Bali akan meningkat.

Ia memprediksikan pertumbuhan ekonomi di Pulau Dewata ini kan meningkat hingga 6,54 %, dari sektor konstruksi, hotel, makanan dan minuman. “Jadi ini poinnya, akan naik dari 5,9 % menjadi 6,54% karena adanya Am IMF WGB ini. Untuk jumlah kesempatan kerja bertambah sebanyak 32.700. Ini baik untuk warga Bali, upah rill naik 1,13%, kesempatan kerja naik 1,26%. Jadi kita bisa lihat betapa luar biasa dampak mega meeting ini.”

Sedangkan, Bamabang mengungkapkan dirinya akan lebih berfokus pada dampak dan manfaat dari kegiatan tahunan tersebut. Untuk dampak dari pertemuan IMF tersebut, dirinya menjelaskan akan terjadi dua dampak yaitu dampak langsung dan tidak langsung.

“Dampak langsung kita lihat dari investasi pemerintah, ditambah penyelenggaraan sendiri dan pengeluaran pengunjung. Dampak tidak langsung seperti dampak UMKM, sehingga bisa menghitung penambahan lapangan kerja. “

Dijelaskan bahwa dampak langsung untuk penyelenggaraan IMF 2018 ini, pemerintah mengeluarkan dana terhitung dari 2017-2018 sebesar Rp 5,9 triliun. Terutama untuk infrastruktur yang dinilai menghabiskan dana sebesar Rp 3 triliun. Namun dalam hal tersebut, Bambang menegaskan dana tersebut tidak di habiskan semua untuk menggelar pertemuan IMF 2018 ini saja, masih banyak lainnya.

“Tapi bukan hanya untuk acara ini saja, contohnya seperti underpass Ngurah Rai, Pelabuhan Benoa, Patung Garuda Wisnu Kencana.”

Pembahasan Strategi Global

Dalam hal ini, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Bisar Panjaitan mengatakan di IMF nantinya pihak Indonesia akan mendorong pembahasan mengenai strategi global. Ini dilakukan untuk mendorong pembangunan infrastruktur di negara berkembang dan pembahasan terkait human capital.

Terkait pembangunan infrastruktur, Luhut menyatakan hal ini ditekankan khususnya terkait dengan urbanisasi. Mengingat, dirinya melihat data secara langsung bahwa banyak negara berkembang termasuk Indonesia, saat ini mengalami proses urbanisasi yang sangat pesat.

“Kondisi itu harus didukung dengan ketersediaan layanan publik untuk menjadikan wilayah urban sebagai kawasan yang layak huni dan memiliki potensi urbanisasi ekonomi utuk menyerap lapangan kerja,” ujar Luhut.

Sedangkan untuk pembahasan humas capital, Luhut menjelaskan bahawa hal ini berkaitan dengan kondisi di era distruption dari perkembangan ekonomi digital saat ini. Hal ini menurutnya lebih tertuju pada menyiapkan generasi muda agar dapat bersaing di era ekonomi digital.

“Sesuai dengan instruksi Presiden (Joko Widodo) bahwa momentum kehadiran ‘dunia’ ke Bali bulan Oktober 2018 wajib di manfaatkan sebesar-besarnya untuk mempromosikan. Indonesia sebagai destinasi investasi dan wisata.”

Sementara itu, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI ini mengungkapkan topik selanjutnya yang akan dibahas di pertemuan IMF nanti, mengenai ekonomi syariah, dukungan terhadap UKM, serta strategi keuangan terkait penanganan pembangunan global.

Dijelaskan, pada pertemuan IMF 2018 bulan Oktober ini, digadang-gadang ada 189 negara dengan 19.800 perseta akan hadir. Jumlah tersebut terdiri dari 5.050 peserta delegasi dan 14.750 non delegasi. Sedangkan 13.000 peserta dari mancanegara dan 1.750 dari Indonesia. (GES)